Jumat, 11 Desember 2015

DIRI

Manusia Bali sesungguhnya sangat paham dalam mencerdaskan generasi selanjutnya. Hal ini dapat kita telusuri dari berbagai warisan upacara yang mengandung makna kecerdasan dan pengetahuan. Pada akhir perhitungan wuku, akhir dari perhitungan satu putaran jaman, yaitu pada wuku watugunung, yang dikenal dengan istilah watugunung runtuh....lahirlah pengetahuan yang ditandai dengan perayaan hari raya Saraswati. Hari Raya Saraswati dirayakan sebagai penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, cikal bakal kehidupan manusia, awal mula kita belajar tentang aksara, bahasa, hidup dan kehidupan. Setelah itu, kita akan merayakan Hari Raya Pagerwesi sebagai sebuah makna "penjagaan, pemagaran, perlindungan" terhadap pengetahuan, diri, rasa, ego dari keserakahan, penghancuran lingkungan dan juga penghancuran sesama mahluk. Selanjutnya kita akan bertemu Hari Raya Tumpek Landep, sebagai sebuah pemantapan terhadap ilmu pengetahuan yang sdh tumbuh dan terjaga dalam diri, dalam rasa, dalam raga. Hal ini penting sebagai sebuah persiapan dalam menghadapi "perang" baik fisik maupun psikis. Pemantapan dan pengasahan kemampuan serta pengetahuan perlu dilaksanakan agar ilmu pengetahuan tersebut berkembang dan bergerak kedepan menuju keharmonisan dan kesejahteraan. Pada rangkaian berikutnya kita akan bertemu dengan Hari Raya yang kurang populer Piodalan Bhatara Guru. Dilaksanakan pada redite ukir sebagai sebuah perayaan agar pengetahuan tidak berkembang liar dan bersifat merusak maka diperlukan bimbingan dan tuntunan seorang GURU yang diwujudkan dalam pelinggih rong tiga/kemulan. Pengetahuan tidak akan berfungsi dengan baik tanpa tuntunan seorang Guru. Selanjutnya ilmu pengetahuan tersebut akan kita gunakan untuk "berperang" dalam kehidupan yang di rayakan melalui perayaan Hari Raya Galungan. Melalui perayaan Galungan, kita diharapkan menghasilkan kemenangan "sang diri" selaku percikan dari Yang Maha Kuasa untuk dapat menjadi manusia yang menciptakan keharmonisan ďan kesejahteraan hidup yang kita rayakan melalui Hari Raya Kuningan.