Manusia Bali sesungguhnya sangat paham dalam mencerdaskan generasi selanjutnya. Hal ini dapat kita telusuri dari berbagai warisan upacara yang mengandung makna kecerdasan dan pengetahuan. Pada akhir perhitungan wuku, akhir dari perhitungan satu putaran jaman, yaitu pada wuku watugunung, yang dikenal dengan istilah watugunung runtuh....lahirlah pengetahuan yang ditandai dengan perayaan hari raya Saraswati. Hari Raya Saraswati dirayakan sebagai penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, cikal bakal kehidupan manusia, awal mula kita belajar tentang aksara, bahasa, hidup dan kehidupan. Setelah itu, kita akan merayakan Hari Raya Pagerwesi sebagai sebuah makna "penjagaan, pemagaran, perlindungan" terhadap pengetahuan, diri, rasa, ego dari keserakahan, penghancuran lingkungan dan juga penghancuran sesama mahluk. Selanjutnya kita akan bertemu Hari Raya Tumpek Landep, sebagai sebuah pemantapan terhadap ilmu pengetahuan yang sdh tumbuh dan terjaga dalam diri, dalam rasa, dalam raga. Hal ini penting sebagai sebuah persiapan dalam menghadapi "perang" baik fisik maupun psikis. Pemantapan dan pengasahan kemampuan serta pengetahuan perlu dilaksanakan agar ilmu pengetahuan tersebut berkembang dan bergerak kedepan menuju keharmonisan dan kesejahteraan. Pada rangkaian berikutnya kita akan bertemu dengan Hari Raya yang kurang populer Piodalan Bhatara Guru. Dilaksanakan pada redite ukir sebagai sebuah perayaan agar pengetahuan tidak berkembang liar dan bersifat merusak maka diperlukan bimbingan dan tuntunan seorang GURU yang diwujudkan dalam pelinggih rong tiga/kemulan. Pengetahuan tidak akan berfungsi dengan baik tanpa tuntunan seorang Guru. Selanjutnya ilmu pengetahuan tersebut akan kita gunakan untuk "berperang" dalam kehidupan yang di rayakan melalui perayaan Hari Raya Galungan. Melalui perayaan Galungan, kita diharapkan menghasilkan kemenangan "sang diri" selaku percikan dari Yang Maha Kuasa untuk dapat menjadi manusia yang menciptakan keharmonisan ďan kesejahteraan hidup yang kita rayakan melalui Hari Raya Kuningan.
dewatu meranggi
Jumat, 11 Desember 2015
Jumat, 13 November 2015
ZONE NYAMAN
mari isi diri dengan pengetahuan, agar zone nyaman ada di fakta...bukan di pikiran
Jumat, 03 Mei 2013
JUJUR
Semakin transparanlah sesungguhnya pikiran itu, dia dipengaruhi oleh kepentingan mata, dan keperluan tubuh, mulutpun menjadi pembantu setia, berkoar dan teriak, membinasakan mata hati demi segepok kepentingan kantong, jernihkan hati dengan kejujuran, buka mata buka hati
Jumat, 17 Agustus 2012
HIDUP ADALAH GETARAN
Setiap pikiran,perkataan bahkan perbuatan setiap mahluk pastilah akan menimbulkan getaran atau menggetarkan sekitarnya. Seperti halnya setetes air jatuh diatas permukaan air kolam atau danau, dia akan menimbulkan gelombang yg tidak terputus, demikian jg pikiran yg di deskripsi kan lewat kata-kata apalagi tindakan yg tentunya menimbulkan akibat terlebih itu adalah perilaku 'negatif' pastinya akan menyebabkan gelombang ketidakteraturan,kekacauan yg jikalau diikuti oleh yg lainnya akan berdampak lebih besar. Harus dipahami bersama bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yg terjadi karena kebetulan, semuanya berproses namun terkadang banyak orang yang tidak menyadari bahwa proses itu ada sehingga mengabaikannya dan menyatakan yang terjadi sebagai sebuah "kebetulan".
Ketika kita sudah menyadari tentang hal ini semestinya kita mulai menyederhanakan hidup dengan cara yg sederhana, berpikir benar,berkata halus lembut sehingga getaran yang dihasilkan pun menjadi positif, menyebar dari hati menuju sekeliling kita merayap di dimensi waktu shg akhirnya menembus batas ego sentris setiap mahluk, melebur dalam cinta penuh kasih, menghargai, menghormati dan menumbuhkan ke"dewa"saan dalam pribadi yang bercahaya. Mulailah saat ini juga. Shanti.
Kamis, 16 Agustus 2012
LOGIKA
Suatu kawasan/wilayah dalam alam pikiran yang dibatasi tembok "mata dan telinga", dengan pemahaman yang di deskripsikan lewat rumus L=PXP, LOGIKA=PENGLIHATAN X PENDENGARAN. Logika membatasi kita untuk memahami "inti" dari sesuatu,hal atau sebuah materi, logika membuat kita menjadi mahluk yg mengandalkan apa yang tampak di hadapan mata dan bisa di dengar telinga, logika mengesampingkan peran mata hati/mata bathin sebagai sumber KEBENARAN SEMESTA yang ,melahirkan sebuah nama INTUISI. Logika menghasilkan keputusan yg di inisiasi oleh pertimbangan mata dan telinga, sering berubah sesuai dg tipuan mata dan rayuan telinga, tetapi INTUISI dihasilkan dari bathin yg jernih yg di transfer oleh semesta sehingga hukum alam sangat mempengaruhinya, segala sesuatunya bersifat pasti, tidak ada pertimbangan 'kedekatan,tipuan mata dan rayuan telinga' seperti karmaphala, pasti dan pasti. Logika bersifat ego, dan sangat besar kemungkinan untuk di intervensi, dimanipulasi dengan hal hal yang bertentangan dengan semesta dan alam diluar mata/telinga. Untuk meminimalisir kesalahan itu, maka kita semestinya membuka hati untuk mau belajar di setiap tarikan nafas, melihat dunia dari sisi yang lain dan mulai belajar ,mendengar dari siapapun tanpa memandang personalnya. Mari buka mata dan telinga lebih lebar serta menghemat olahraga mulut. LOGIKA fase 2 diatas INSTING, dibawah INTUISI.
Rabu, 15 Agustus 2012
HATI
Kebaikan hati adalah ketidakmampuan untuk tetap tenteram jika ada orang lain yang merasa gelisah, ketidakmampuan merasa nyaman jika ada orang merasa tidak nyaman, ketidakmampuan untuk tetap berperasaan enak apabila seorang tetangga sedang gundah
Ambisi
Apa yang nampak sebagai suatu kemurahan hati, sering sebenarnya tiada lain adalah ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan-kepentingan yang lebih besar